Wednesday, May 22, 2013

FANCREATIVE: Pesan Cinta


By: @Anggun_triara

Pagi ini keshia kembali berangkat sekolah setengah jam lebih cepat dari biasanya, karena ada misi yang harus dia selesaikan pagi ini. udara pagi yang menyeka rambutnya dari sela-sela jendela bis membuatnya nyaman. Ditambah suasana bis kota yang belum terlalu ramai,,yaahh…hanya siswa yang terlalu rajin sepertinya yang berangkat sekolah sejak pukul 6 pagi (padahal sekolah masuk pukul 7.30) :D tapi lagi lagi ini disebabkan oleh misinya yang amat sangat penting.
Turun dari bis Keshia langsung melirik jam di pergelangan tangan kirinya 6.20. Yupz!! waktunya tepat, sekolah masih kosong hanya ada mang Udin sang penjaga sekolah yang sedang menyapu halaman.

“pagi mang!!!” sapa Keshia ceria
“pagi.. wahh,subuhan nieh mbak ??” tanyanya sambil meledek Keshia
“hahaha iya nieh mang,biasa masih soal misi yang kemarin” jawab Keshia tersipu.
“ooh.. yo wiss. Semoga berhasil ya mbak. Tak bantu doa” 
 “iya mang,makasih” jawabnya sambil berlalu
 
Yahh,mang Udin adalah salah satu orang yang mengetahui misinya ini. karena berkat beliau Keshia bisa meminjam kunci sebuah kelas dimana kelas tersebut menjadi tujuan utamanya pagi ini. bukan, itu bukan kelasnya. “kunci keramat” itu adalah kunci kelas kakak tingkatnya.
Berjalan menyusuri koridor sekolah yang sepi sambil ditemani semilir angin, entah mengapa Keshia malah membayangkan sedang berjalan dengannya :D dia gila, ya keshia memang tergila-gila pada seseorang itu. Kelasnya berada di lantai 3 gedung sekolah ini, karena berjalan sambil berkhayal Keshia pun tanpa terasa telah sampai di kelasnya. Keshia mendongakkan kepalanya, 12ips2 yaah..inilah kelas yang dia tuju. Dengan perlahan Keshia membuka kelas yang masih terkunci rapat itu, menuju bangku nomor tiga yang berada di barisan kiri pojok kelas. Keshia tersenyum menatap bangku kosong itu dan segera meletakkan sebuah surat yang terdapat didalam sebuah botol plastik yang dihias pita cantik. “tuhan, tolong aku sampaikan pesan ini padanya, agar dia tahu bahwa kini aku jatuh cinta” ucapku dalam hati sembari meletakkan botol berisi surat itu di laci mejanya. Kau tahu, Keshia selalu deg-degan setiap kali menjalankan misi rahasianya ini. padahal Keshia sudah menjalani ini selama 3 bulan :D
* * * **

“ini surat ke 23 yang udah gue terima selama tiga bulan ini dan gue belum nemuin siapa pengirimnya” keluh Afgan kepada Reza sahabatnya, ketika mereka sedang makan di kantin.
Reza pun mengambil surat yang disodorkan Afgan kepadanya, membaca sebentar isinya dan berlagak menganalisis siapa sebenarnya pengirim dari surat-surat itu.
“ada solusi gak za??” tanya Afgan lagi, karena dia hanya melihat Reza diam setelah memmbaca suratnya tersebut.
“ada dua petunjuk disini. Yang pertama dia selalu ngirim surat pake botol plastik yang dihias ini menunjukkan kalau dia seseorang yang kreatif. Dan yang kedua, dia gak ngasih inisial namanya tapi dia mengganti namanya dengan tanda ini (reza menunjuk gambar sebuah tapak kaki anjing di pojok kiri bawah surat) nah ini bisa menunjukkan bahwa dia seorang pencinta anjing” ringkas Reza tegas seolah-olah dia telah memecahkan sebuah misteri yang sangat besar.

“lo yakin??” tanya Afgan ragu-ragu
“gan, inikan baru hipotesis. Mau yakin atau gak yang penting harus di coba dulu. Jadi sekarang pertanyaanya adalah seseorang yang kreatif dan pecinta anjing di sekitar lo siapa???” kali ini Reza mengakhiri ucapannya dengan langsung menyedot minuman yang ada dihadapannya.
“siapa ya???’ tanya Afgan pada dirinya sendiri
“aduhh broo,, gue heran ya kenapa tuh orang bisa suka sama lo. disuruh mikir begitu aja gak bisa” jawab Reza putus asa.

Afgan membenarkan letak kacamatanya, dia berfikir bahwa analisis Reza cukup masuk akal hanya saja dia memang belum mendapat bayangan siapa kira-kira seseorang yang kreatif dan menyukai anjing yang telah mengirimkannya surat kepadanya selama ini.
“broo, secret admirer lo ini cupu juga ya. sekarang udah zaman sms, facebook, twitter dan lain-lain dia masih aja pake cara konfensional begini. Hahahaha” ledek Reza sambil menyerahkan kembali suratnya kepada Afgan.
“yaah, diakan mau kirim “pesan cinta” buat gue. Sirik aja lo!” jawab Afgan sambil tersenyum bangga.

Akhirnya  curhat Afgan dikantin siang itu diakhiri dengan wajah manyun Reza yang harus menerima bahwa Afgan memang lebih menarik hati para siswa perempuan dibandingkan dirinya. Afgan adalah sosok cowok popular di sekolahnya, secara fisik dia tampan dengan kulit putih bersih. Sepasang lesung pipi yang manis akan muncul saat dia tersenyum atau berbicara, ini poin plus yang akan membuat gadis-gadis meleleh saat melihatnya tersenyum. Secara intelegensi Afgan juga tidak bisa dipandang sebelah mata, dia pernah membawa medali emas dalam olimpiade matematika tingkat internasional saat dia duduk dibangku kelas 1 sma. Banyak siswi perempuan yang dengan terang-terangan menyatakan perasaanya pada Afgan. Tapi Afgan selalu menolak dengan alasan dia ingin fokus ke UAN yang akan berlangsung sebentar lagi. padahal alasan sebenarnya, Afgan hanya belum menemukan gadis yang benar-benar menarik perhatiannya.
Ketika bel berbunyi yang menandakan bahwa jam istirahat sudah selesai, Afgan dan Reza pun langsung meninggalkan kantin. Di lorong sekolah tepat di depan tangga menuju kelasnya, Afgan berhenti sejenak. Dia tertarik dengan majalah dinding yang berdiri tegak disana, entah mengapa seperti ada yang menarik matanya untuk memperhatikan mading ini dengan lebih seksama. Reza yang tidak menyadari Afgan “nyangkut” di mading langsung menghampirinya kembali.

“kenapa broo?” tanya Reza langsung
“mungkin gak za, kalau orang yang ngirimin gue pesan cinta itu adalah salah satu pengurus mading?” jawab Afgan tanpa mengalihkan pandangannya dari mading tersebut.
“good!!!! kita bisa mulai menyeledikinya dari sini.” sergah Reza antusias “gue kenal kok sama pengurus mading, gampang nanti sebelum les kita ke ruangan mading dulu” sambung Reza lagi.

Sementara itu di satu kelas yang baru saja Afgan lewati, terjadi kehebohan kecil antara dua sahabat.

“tuh, pangeran lo baru lewat. seneng kan??” tanya Arra dengan senyum jahilnya
“seneng banget ra,kalau bisa dia masuk ke kelas kita dan duduk di samping gue sekarang” jawab Keshia yang tak henti-hentinya tersenyum.
“jangan ngayal ketinggian deh kes, ngapain Afgan masuk ke kelas 10 dan duduk disamping lo pula. Logika lo dipake non” jawab Arra sambil menunjuk-nunjuk jidatnya
“cinta itu gak butuh logika lagi ra! Hahahaha” jawab Keshia puas.
“kaya lagunya agnes deh lo. oia pagi ini lo jadi ngirim surat ke dia??” tanya Arra ingin tahu.
“jadi donk” mantap Keshia menjawab pertanyaan arra tersebut
“mau sampai kapan kes?? lo gak bisa jadi secret admirer terus, sebentar lagi dia lulus. pilihan lo cuma dua, jujur sama dia tentang perasaan lo atau berhenti ngelakuin hal ini sekarang juga” Arra menatap mata Keshia tajam.
“entahla ra, gue sayang banget sama dia. Tapi gue ngerasa jujur bukan solusi yang tepat” tatapan mata Keshia mengisyaratkan kebingungan yang mendalam.
Arra mulai lelah dengan sikap Keshia yang tak berani jujur pada Afgan tentang perasannya ini. dia tahu, Keshia sangat mementingkan harga dirinya tapi sebagai sahabat Arra juga merasa bahwa permainan Keshia ini tak ada gunanya. Selama tiga bulan berangkat sekolah subuh-subuh hanya untuk menyelipkan surat di laci meja sekolah Afgan. Keshia juga tidak menuliskan petunjuk di surat bahwa dialah penulis surat tersebut, dari semua misteri itu dari mana Afgan bisa mengetahui semuanya. Arra sungguh tidak mengerti kemana jalan pikiran Keshia, dia berfikir mungkin inilah salah satu cara seseorang untuk mengekspresikan cintanya.
* * * * *
Sudah sepuluh hari sejak pengiriman surat terakhir, Afgan tidak lagi menerima pesan cinta dari secret admirernya. Dia mulai penasaran, kemana sebenarnya orang itu. Apa dia tahu bahwa Afgan sedang menyelidikinya beberapa hari terakhir ini?? Afgan pun mulai merindukan surat misterius itu yang selalu mampir ke laci meja belajarnya.
Selain itu usaha Afgan untuk mencari secret admirer nya di ruang mading ternyata hasilnya nihil. Dia telah melihat semua arsip  tulisan para pengurus mading, tapi tidak ada yang mempunyai ciri khas tulisan dengan gambar tapak kaki anjing di akhir tulisannya. Bahkan tidak hanya mading, Afgan dan Reza pun sampai mencari ke pengurus majalah sekolah dan ekskul-ekskul yang berhubungan dengan tulis menulis lainnya. Tapi hasilnya nol besar!!! Dia tidak menemukan petunjuk apapun.

*PERPUSTAKAN*
Perpustakaan cukup ramai siang ini, banyak siswa-siswa yang mengerjakan tugas atau sekedar membaca buku disini. Terlihat disana Keshia sedang duduk sendirian di salah satu sudut perpustakan, dia sibuk mencatat materi-materi yang akan menjadi bahan tulisannya untuk tugas bahasa Indonesia mengenai kebudayaan.
“permisi,,bangku ini kosong?” tanya seseorang padanya
“iya kosong” jawab Keshia singkat tanpa menoleh ke pemilik suara.
Terdengar suara bangku di geser tepat di sebelahnya, kemudian orang itu duduk dengan tenang disana. Keshia yang sedang sibuk menulis seperti tidak peduli dengan kehadiran seseorang tersebut, dia hanya fokus pada tulisannya dan berharap seseorang itu tidak menganggunya.
“sori, boleh minta kertasnya gak?? Gue lupa bawa buku nih” suara orang itu kembali terdengar.
Keshiapun langsung menyobek bagian tengah bukunya dan langsung memberikan kepada orang itu. Kali ini tentu saja dia melihat siapa seseorang yang ada di sebelahnya ini.
*jeggerr* seperti terkena petir di siang bolong, Keshia baru menyadari bahwa orang itu adalah Afgan. Seseorang yang sangat dikaguminya selama ini. secepat kilat Keshia rasanya ingin mengambil kembali kertas yang baru saja diberikannya. Tapi terlambat, kertas itu sudah ditangan Afgan sekarang.
“thanks” Afgan yang tidak menyadari apa yang terjadi, mengucapkan kalimat itu dengan ringan plus senyuman yang memperlihatkan lesung pipinya.
Keshia pun membalas ucapan Afgan dengan tersenyum kecut. Dia mencoba kembali menekuni buku yang dibacanya, tapi pikirannya sudah kacau sekarang. Afgan ada di sampingnya dan dia memegang kertas yang berasal dari buku Keshia. Akhirnya Keshia memutuskan keluar dari perpustakan, dia buru-buru membereskan buku-bukunya dan bergegas meninggalkan Afgan disana. Keshia langsung menuju kelas dan mencari Arra. Arra yang sedang mendengarkan music dari ipodnya terkejut ketika Keshia datang dan langsung menarik headset dari telinganya.
“aduh kes, apa-apan sih lo?!” sergah Arra galak.
“ra ra ra,,gue ketemu Afgan di perpus” beri tahu Keshia cemas
“bagus dong, ngobrol apa aja?” tanya Arra mulai melunak
“boro-boro,, dia minta kertas gue ra” beri tahu Keshia lagi.
“soo… seneng dong lo pasti. Akhirnya pangeran lo itu ngajak lo ngomong juga” jawab Arra asal sambil memasang kembali headsetnya.
“dodolll… dikertas itu ada tapak kaki luna ra,,yang jadi identitas pengirim surat gue. Kalau afgan ngecun gimana?? Kalau gue ketahuan gimana?? Kalau afgan marah, gak suka sama gue terus dia benci sama gue gimana?? Gimana ra gimana  nasib gue??” keshia yang sejak tadi menahan emosi, akhirnya bisa meluapkan segala kecemasannya pada Arra.
Dia benar-benar cemas saat ini, dia takut mimpi buruknya selama ini menjadi kenyataan jika dia benar-benar ketahuan oleh Afgan.
“udah-udah lo tenang ya,, mungkin emang udah saatnya Afgan tahu siapa secret admirernya. Ini gak akan seburuk yang lo pikir kes, percaya sama gue semua akan baik-baik aja asal lo bisa tenang. Denger ya, gak ada yang salah sama yang namanya cinta. Hak lo kok buat suka sama siapapun orang di dunia ini, termasuk suka sama cowok terpopuler di sekolah. Once again,,semua akan baik-baik aja. Oke???” Arra mencoba menenangkan keshia yang terlihat hampir menangis.
Akhirnya Keshia bisa sedikit tenang setelah mendapat ceramah panjang lebar dari Arra. Itulah gunanya sahabatkan, dia harus bisa menenangkan dalam situasi apapun :D   
Keshia tetap tak bisa menyembunyikan perasaan gelisahnya, 3 pelajaran terakhir dia benar-benar tidak konsentrasi terhadap pelajarannya. Keshia tidak pernah segelisah ini, Arra tahu tapi dia hanya bisa sesekali menyentuh siku Keshia jika Keshia sudah melamun terlalu lama.
“kes, mau pulang gak lo??” tanya Arra agak keras, karena dilihatnya Keshia masih melamun sambil memainkan bolpointnya.
“hah..emang bu Ati udah selesai??” jawab Keshia heran
“udah keluar daritadi kalii… lo ngelamun mulu sih”
sekarang Arra sudah selesai membereskan buku-bukunya kedalam tas. Sementara Keshia, bukunya masih berserakan di mejanya. Keshia melihat sekeliling kelasnya, kosong hanya tinggal mereka berdua disana. Dengan malas-malasan Keshia memasukkan buku-bukunya kedalam tas. Arra hanya melihat ekspresi Keshia dengan prihatin. Saat keshia dan Arra hendak keluar kelas, terlihat Afgan dan Reza berjalan menuju ke arah mereka
“ehh, lo Keshia ya?” tanya Afgan langsung saat mereka telah berhadapan
“ii..iiya” Keshia gelagapan menjawab pertanyaan Afgan tersebut. Dia terkejut tiba-tiba Afgan telah berada di depannya.
Kemudian Afgan membuka tasnya, Keshia berfikir Afgan akan mengeluarkan kertas yang berisi tapak kaki luna tersebut. “mampus gue,,gue harus gimana sekarang” batin Keshia cemas. Tanpa sadar dia mengenggam erat tangan Arra yang berada tepat di sampingnya…
“tadi flasdisk lo ketinggalan di perpus. Sorii ya, gue tadi buka-buka soalnya gue mau lihat data pemiliknya aja.” Afgan menyerahkan sebuah flasdisk berbentuk doraemon dan menjelaskan mengapa dia harus membuka flasdisk tersebut.
Ada perasaan lega di hati Keshia, dia mengambil flasdisk tersebut dengan senyum yang mengembang.
“thanks ya, iya gak papa kok”  jawab Keshia singkat
“tulisan lo keren, kenapa gak masukin majalah sekolah atau mading aja??” puji Afgan tulus.
“hah.. thanks sekali lagi. tapi gue udah beberapa kali kok masukin tulisan gue di mading. Pasti lo jarang baca mading ya??” kali ini Keshia mencoba serileks mungkin mengobrol dengan Afgan.
“oh ya?? hahaha ketahuan deh” Afgan tersenyum malu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“yaudah, gue balik dulu ya. sekali lagi thanks flasdisknya” Keshia tersenyum manis sambil mengacungkan flasdisknya.
Sesungguhnya Keshia ingin lebih berlama-lama mengobrol dengan pangerannya itu. Tapi kakinya sudah lemas sangking senangnya. Setelah yakin Afgan tidak terlihat lagi olehnya, Keshia langsung memeluk Arra erat. Dia senang bahkan sangat senang Afgan, pengeran hatinya membaca puisi-puisi yang ada di flasdisk tersebut yang tanpa Afgan sadari bahwa puisi-puisi itu terinspirasi dari sosoknya. Keshia memang selalu menuangkan perasaanya dalam sebuah puisi, saat dia sedih, bahagia, bimbang, atau cemburu karena melihat Afgan mengobrol dengan siswi-siswi lain Keshia selalu menuangkannya dalam tulisan. Kini dia senang akhirnya Afgan dapat membaca langsung karyanya tersebut.
* * * * *
“Keshia!!! Bangunnn… kamu ini jadi anak gadis males banget sih” teriak mama di kamar Keshia. Dengan cepat dia membuka jendela kamar Keshia, agar seluruh sinar matahari masuk ke kamar itu.
“aduuhh maa, bentar lagi ya. Keshia masih ngantuk nieh” Keshia merajuk sambil menutup tubuhnya dengan selimut.
Mamanya yang sudah hapal dengan kebiasaan Keshia ini tidak mau kalah ngotot, beliau menarik kuat selimut tersebut dan memaksa Keshia untuk bangun. Akhirnya dengan malas-malasan Keshia bangun dan duduk di pinggir tempat tidur untuk sejenak mengumpulkan nyawa-nyawanya.
“kamu mandi gieh, terus ke swalayan buat belanja bulanan. Mama gak sempet kes,soalnya mau kerumah tante Ami nanti siang” mama menjelaskan tugas Keshia hari ini sambil membereskan meja belajar Keshia.
“sendirian ma?? haduuhhh….” Keshia manyun membayangkan dia kerepotan dengan belanjaan yang segambreng itu.
“iya sendiri sayang, kamu boleh bawa mobil kok. Nanti mama perginya bareng sama om dedi” mama sudah tahu Keshia pasti akan merajuk jika harus belanja bulanan menggunakan motor. Akhirnya dia lebih memilih dijemput oleh adiknya saja.
Setelah mandi, sarapan dan menonton kartun kesukaannya, Keshia pergi berbelanja sesuai dengan apa yang dipesankan mamanya tadi pagi. Hari libur, suasana swalayan sangat ramai. Dengan berbekal daftar belanjaan yang di tulis oleh mamanya, Keshia mulai satu persatu mengambil barang-barang apa saja yang ada di catatan.
Saat Keshia hendak mengambil sebuah makanan kaleng yang berada di rak paling atas, dia terlihat kesulitan menjangkau rak itu. Dia melihat sekelilingnya, mungkin ada petugas yang bisa membantu. Tapi tak ada petugas disana yang ada hanya seorang anak kecil dan neneknya dan sepasang suami istri. Keshia segan untuk meminta tolong pada mereka, akhirnya keshia mencobanya sekali lagi. saat sedang berjinjit untuk menggapai, tiba-tiba ada tangan lain yang mengambilkan kaleng makanan itu. Keshia menoleh ke arah pemilik tangan tersebut.
“Afgan??!” sentak Keshia kaget
“hai…”  sapa Afgan sambil tersenyum
“ngapain lo disini??” entah mengapa kalimat itu yang meluncur dari bibir Keshia.
“mau berenang, ya belanja donk” jawab Afgan ringan
Keshia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya bertemu afgan disini. Di swalayan, tempat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Afgan terlihat berbeda saat dia tidak mengenakan seragam sekolahnya. Meski hanya mengenakan kaos, jaket dan jeans tapi menurut Keshia Afgan sangat tampan hari ini dan itu membuat Keshia semakin tergila-gila. Akhirnya karena melihat belanjaan Keshia yang sangat banyak, Afgan memutuskan untuk menemaninya belanja. Membantunya menggapai rak teratas dan mendorong troli yang cukup berat itu. Keshia tentu saja senang, dia berkhayal sedang berbelanja dengan suaminya saat ini. sungguh khayalan yang simple tapi romantis. (hahaha… Keshia memang gadis pengkhayal). Selesai berbelanja, Afgan mengajak Keshia untuk sejenak mengobrol di café yang terletak di mall yang sama dengan swalayan tersebut. Maka di café inilah akhirnya mereka duduk berhadapan sambil mengobrol ringan. Meski café ini terletak di lingkungan mall tapi suasana café ini tetap bisa memberikan ketenangan ditambah dengan backsong dari Mariah Carey yang menyanyikan lagu Hero semakin membuat suasana tenang dann romantis (khusus untuk Keshia) :D
“kes, ada yang mau gue tanyain sama lo” ucap Afgan tiba-tiba
“umm, mau tanya apa?” jawab Keshia sambil menyendok es krimnya.
“kenapa sekarang lo gak pernah kirimin gue surat lagi??” Afgan menatap Keshia lembut.
Keshia tersentak, dia kaget dengan pertanyaan Afgan yang tanpa basa-basi itu.
“surat apaan gan?? Gue gak ngerti” ucapnya berbohong
“udahlah kes, gue udah tahu kok kalau yang kirim surat-surat itu adalah elo” Afgan tetap berkata dengan tenang
kemudian Afgan mengeluarkan sebuah botol berisi pesan cinta dari Keshia, kertas Keshia yang pernah dimintanya ketika di perpus dan sebuah tulisan tangan Keshia yang dia dapat dari redaksi mading beberapa minggu lalu. Keshia hapal dengan semua benda-benda itu, karena itu memang miliknya.
“gue udah tahu semua kes, lo itu terlalu ceroboh. Lo liat ciri khas tulisan lo ini (Afgan menunjuk tanda tapak kaki anjing yang ada di masing-masing kertas) ketua mading bilang, ini emang kebiasaan lo kalau selesai nulis. Sekarang lo masih mau bohong??” tanya Afgan
Keshia hampir menangis  menyadari dirinya sudah ketahuan oleh Afgan, dia merasa seperti seorang maling yang sudah tertangkap tangan ketika mencuri.
“iya gan, semua gue yang nulis. Yang kirim surat-surat ke elo itu adalah gue. Sorii kalau gue udah ganggu lo selama ini.” Keshia menatap mata Afgan sendu.
“gak papa kes, gue seneng kok lo jujur. Gue juga seneng karena ternyata seseorang itu adalah elo” ucap Afgan tulus, dia menggengam tangan Keshia lembut.
Keshia terdiam, ini situasi tersulit yang selalu tak ingin dia alami. Ucapan Afgan tak bisa dicernanya dengan baik, sungguh saat ini dia hanya ingin pulang dan berdiam diri dikamarnya.
“kes, tapi gue juga mau jujur sama lo” ucap Afgan lagi
“mau jujur apa gan” Keshia berusaha tegar dan menatap Afgan.
“setelah lulus sekolah, gue mau ngelanjut kuliah di Australia. Bokap mau gue sekolah bisnis disana dan itu berarti gue akan meninggalkan Indonesia dalam waktu yang cukup lama. Gue gak mau memaksa lo untuk nunggu gue kes, karena gue gak mau menyiksa batin seseorang yang gue sayang. Semoga lo bisa ngertiin keputusan gue ini” Afgan masih mengenggam tangan Keshia lembut.
Sebenarnya afganpun berat untuk memutuskan dan mengatakan ini, meski baru sebulan terakhir dia mengenal Keshia tapi gadis mungil itu telah membuat hari-harinya berwarna. Keshia yang ceria dan apa adanya, sangat berbeda dengan gadis-gadis lain yang selama ini berusaha mendekati dirinya yang selalu jaim dan berlagak manja dihadapannya.
Dengan mata yang berkaca-kaca, Keshia menguatkan hati untuk menatap mata Afgan. Dia melihat kejujuran, ketulusan dan kehangatan disana. Afgan, seseorang yang selama ini sangat dia kagumi ada di hadapannya dan mengatakan bahwa di juga menyayangi Keshia. Akhirnya air mata itu benar-benar turun dan menghujani wajah Keshia. Melihat Keshia menangis, Afgan beranjak dari tempat duduknya dan duduk disamping Keshia. Dia memeluk Keshia lembut sambil menenangkan hatinya. Afgan mengusap lembut kepala Keshia yang justru makin membuat Keshia terharu dan seolah tak ingin melepaskan Afgan.
“sori kes, tapi gue bener-bener gak mau nyakitin lo terlalu jauh. Gue juga berat untuk memutuskan ini, tapi gue minta banget lo harus ikhlas ya. anggap ini demi gue kes” Afgan berkata seolah memohon.
“iya gan,, semoga gue bisa kuat tanpa lo disini” ucap Keshia di tengah isak tangisnya.
Akhirnya Keshia pulang kerumah dengan perasaan hancur sekaligus lega. Dia dapat mengerti keputusan Afgan ini, perintah ayahnya dan pendidikan adalah hal terpenting untuk Afgan.
2 bulan setelah itu Afgan benar-benar berangkat ke Australia untuk menempuh pendidikannya disana. Keshia mengantar Afgan ke bandara, sebelumnya dia sudah berjanji pada Afgan untuk tidak menangis tapi memang dasarnya Keshia cengeng dia tetap tidak bisa menahan air matanya ketika mendengar Afgan berpamitan.
“cengeng ih, kan udah janji gak mau nangis” ledek Afgan sambil mengusap air mata Keshia.
“ini yang terakhir gan, gue janji setelah lo masuk gue akan berhenti nangis” janji Keshia sekali lagi.
Bandara soekarno hatta menjadi tempat terakhir Afgan dan Keshia bertemu. Tanpa memperdulikan orang-orang sekitar, Afgan memeluk Keshia sangaaaattt lamaa. Ingin rasanya dia membawa Keshia pergi bersamanya agar mereka tidak terpisah, tapi itu sungguh tidak mungkin. Akhirnya Afgan benar-benar harus pergi dan meninggalkan Keshia….
Pesan cinta
Akhirnya pesan cinta itu telah kusampaikan padanya.
Meski tidak berakhir bahagia tapi aku sudah cukup lega karena ternyata seseorang yang kucintai juga memiliki perasaan yang sama denganku.
Terima kasih Tuhan,, kau sudah memberikan cara untuk menyampaikan pesan cintaku.

1 comment:

  1. Ceritanya ngebuat gw masuk dan berhalusinasi brharap bsa jd keisha! Tulisan yg bagus bgt... makin brasa afgan tuh sosok yg sempurna :))

    ReplyDelete

Social Icons